Author Avatar

admin

0

Share post:

jasaimportmurah.com – Virus Corona telah menginfeksi lebih dari tiga juta orang di dunia dan membunuh lebih dari dua ratus ribu orang per 28 April 2020. Virus ini awal mulanya ditemukan di negara China pada akhir tahun 2019. Saat ini virus tersebut telah menyebar ke negara termasuk Indonesia yang semakin parah dengan bertambahnya jumlah korban. Dalam kurun waktu tiga bulan, pandemi virus COVID-19 sudah memiliki dampak yang luas di berbagai negara.

Tidak hanya menginfeksi atau membunuh jutaan orang, tapi menyebabkan manusia dan segala jenis barangnya tidak lagi bebas keluar masuk negara. Beberapa waktu lalu, kemeriahan perdagangan bebas yang sempat mengguncang perekonomian dunia mendadak sepi dan sepi. Rantai pasokan global yang kisruh di beberapa negara tentu akan mengganggu produksi dan konsumsi masyarakat.

Virus Corona Menjadi Gejolak Ekonomi Dunia

Secara umum teori produksi menjelaskan hubungan antara tingkat input yang digunakan dalam proses produksi dengan tingkat output yang dihasilkan. Output produksi yang diharapkan berpotensi tidak tercapai jika salah satu faktor inputnya terganggu, sehingga tenaga kerja tidak dapat lagi berproduksi akibat pandemi Corona.

Namun di sisi lain, kebutuhan konsumsi pada saat pandemi dan kebutuhan sehari-hari harus terpenuhi, namun hasil produksi tidak dapat memenuhi permintaan barang tersebut. Sehingga jika kekacauan dalam perdagangan meningkat maka akan menyebabkan harga-harga naik dan selanjutnya dapat memicu terjadinya inflasi yang tentunya akan mempengaruhi pendapatan dan kebutuhan masyarakat.

Kepanikan melanda dunia seolah-olah dalam sedetik bisa membunuh mereka. Kehidupan sebelumnya sangat berbeda dengan sekarang, terutama dengan perdagangan di dalam negeri kita sendiri. Beberapa negara mengekspor barang yang mereka produksi sebelum pandemi sehingga mampu mencapai pendapatan dan nilai pajak yang diterima. Namun memasuki tahun 2020 kini mulai luntur atas pencapaian dan kelancaran ekspor dan impor akibat datangnya virus yang tadinya tidak diundang.

Negara-negara yang menjadi tujuan utama pasar ekspor Indonesia, seperti China, AS, India, Singapura, dan lainnya, mengalami kontraksi perekonomian sehingga mengakibatkan kontraksi permintaan produk Indonesia yang selama ini diekspor.

Upaya Pemerintah Untuk Mengatasi Masalah Ini

Kebijakan yang diambil pemerintah dalam menanggapi ketergantungan Indonesia terhadap impor dari China, misalnya dengan melakukan upaya untuk mengeluarkan larangan impor hewan hidup dari China. Keputusan larangan impor yang dilakukan tersebut bertujuan untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona dari hewan.

Untuk perdagangan hasil pertanian, Kementerian Pertanian saat ini tengah berupaya melakukan langkah kebijakan untuk mengantisipasi penurunan ekspor pertanian ke China. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan koordinasi dengan eksportir guna memanfaatkan pasar ekspor alternatif. Dari sisi produksi, pemerintah juga harus mendorong petani lokal untuk meningkatkan produksinya baik secara kuantitas maupun kualitas guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tak hanya buah-buahan, pemerintah juga perlu mendorong ekspor produk pertanian berorientasi ekspor lainnya. Tentunya saat ini setiap negara membutuhkan impor dan ekspor, termasuk Indonesia agar devisa domestik meningkat. Setiap keputusan yang diambil pasti memiliki titik tengah atau solusi yang akan diberikan agar tidak menimbulkan kerugian.

Namun untuk memenuhi stok pangan dalam negeri, pemerintah tetap harus berhati-hati dalam memilih komoditas yang akan diimpor agar tidak terjadi penularan virus Corona. Secara khusus, produk bahan pokok seperti buah dan daging dapat menekan penyebaran virus Corona melalui komoditas lifestock sehingga pandemi virus Corona di Indonesia dapat segera teratasi.

Panduan Pemula Untuk Bermain Casino Online
Kebiasaan Yang Dilakukan Ketika Masuk Bulan Puasa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *